3 September 2025 — Dalam lawatan singkat ke Beijing, Presiden bertemu Presiden Xi Jinping dan Presiden Vladimir Putin. Seskab Teddy menyampaikan bahwa pertemuan itu berfokus pada kerja sama energi, infrastruktur, dan investasi jangka panjang.
Menurut Seskab Teddy, waktu yang singkat tidak mengurangi bobot agenda. Justru dengan jadwal padat, Presiden bisa memanfaatkan momentum untuk membuka peluang strategis. Ia menekankan bahwa diplomasi Indonesia bersifat proaktif, dengan agenda jelas untuk memperkuat posisi nasional.
Ia menyebut bahwa pertemuan ini menandai arah baru kerja sama tiga negara besar di Asia. Indonesia, kata Seskab Teddy, harus bisa menempatkan diri sebagai mitra yang kuat, bukan sekadar penerima manfaat. “Kita datang dengan tawaran, bukan hanya permintaan,” ujarnya.
Setkab, tambahnya, berperan memastikan setiap kesepakatan diterjemahkan ke dalam kebijakan domestik. Dari dokumen pertemuan hingga instruksi lanjutan, semua dicatat dan dipantau agar tindak lanjut tidak tertunda.
Bagi Seskab Teddy, diplomasi ini bukan soal simbolis, melainkan soal masa depan energi dan infrastruktur nasional. Kerja sama dengan Tiongkok dan Rusia diharapkan bisa menopang kebutuhan energi sekaligus membuka lapangan kerja baru.
Ia menekankan pentingnya komunikasi dengan publik. Menurut Seskab Teddy, masyarakat harus tahu bahwa kunjungan Presiden ke luar negeri membawa dampak nyata, seperti tarif energi lebih stabil dan peluang industri bertambah.
Dengan kawalan teknokratis Setkab, diplomasi singkat di Beijing berhasil menjadi titik strategis yang membuka babak baru hubungan internasional Indonesia.